Kehilangan

Sejak mampu berkomunikasi,
setiap hari,
kenalan, teman dan saudara bertambah;
meskipun tidak setiap hari bertemu.

Ke manakah perginya,
dan di manakah adanya;
kenalan, teman, dan saudara kita,
saat tidak bertemu dengan kita?

Sejak memahami artinya hidup,
kita menyadari,
setiap saat kita dapat kehilangan kenalan,
kehilangan teman,
kehilangan saudara;
atau mereka yang kehilangan kita.

Menjalin persahabatan,
mengisii ruang persaudaraan,
dengan kebersihan hati,
sungguh melahirkan nilai tak terkira:
Kekurangan kita ada di mereka;
Yang kita punya dapat mereka miliki.

[yss/Sept2018]

Iklan

Rahmat

berwelas asihlah,
berbuat baiklah,
menolonglah sebanyaknya;
engkaulah yang akan mendapat keberkahan.

jika semua berwelas asih,
lingkunganmu,
masyarakatnya,
akan memeroleh kedamaian;
dan saat damai ada,
maka rahmatNya akan datang.

[yss/sept2018]

Maksiat

Lakukanlah menentangNya,
agar melemah dan memutus jalanmu;
reguklah sepenuh haus,
merasai nikmat,
yang menyenangkanmu,
namun menjeratmu untuk mengulangi.

Sungguh dirimu adalah mulia,
namun kini sehina binatang;
karena matamu tak melihatNya,
dan telingamu tak mendengarNya.

Tak beranjaklah,
sehingga menghalangimu meraih ilmu,
meraih berkah,
dan tertutuplah semua langit.

Rasalah,
betapa kotor dan kerasnya hatimu;
dan tunggulah akhir buruk hidupmu.

[yss/sept2018]

Dunia

Tempat apakah dunia ini?

Inilah tempat ujian bagiku dan bagimu,
sebelum kembali ke tempat semula.

Dunia bukan tempat untuk bercengkerama;
Bukan tempat untuk bersenang-senang;
Bukan tempat untuk beristirahat;
Bukan tempat untuk bermalas-malasan;
dan bukan tempat untuk saling menyakiti.

Dunia adalah tempat untuk mencari ilmu,
agar dirimu mengerti dan paham, bagaimana cara beribadah dan cara bersyukur kepada Yang Menciptakan kita.

Dunia adalah tempat untuk berlelah-lelah,
dalam mencari keridhoan Sang Pemilik jiwa kita.

Janganlah aku salah menyangka, janganlah dirimu salah mengira,
tentang dunia ini,
sehingga aku bersamamu,
akan menyesali kesia-siaan yang tanpa batas. *

[yss/spt2018]

Kedamaian

Apakah kedamaian itu? Dari mana datangnya kedamaian?
Kedamaian adalah harapan dan dambaan ideal manusia, dari dulu hingga sekarang, bahkan nanti. Namun harus dipahami, sesuatu yang ideal itu tidak pernah ada di dunia.

Mengapa sesuatu yang ideal, sesuatu yang diimpikan manusia, mustahil ada di dunia?
Karena manusia memiiki napsu di dalam dirinya. Karena manusia selalu tidak pernah merasa puas.
Karena manusia tidak memiliki ukuran yang sama dan tepat dalam segala sesuatu.

Adalah keliru ketika manusia mencari-cari dan mendambakan kedamaian, karena kedamaian mustahil ditemukan. Kedamaian juga bukan tujuan. Ia adalah harapan dan dambaan ideal manusia, yang hanya ada dalam impian, sehingga mustahil ditemukan.

Kedamaian mulai dirasakan ketika manusia membuka hatinya, dan meyakini bahwa ada Dzat Yang Mahapencipta, yang menciptakan dunia dan segala isinya, termasuk dirinya dan seluruh makhluk.

Namun memiliki iman tidak cukup, sehingga manusia membutuhkan sesuatu, sebuah pegangan, sebuah tuntunan, sebuah aturan, jalan dan cara untuk mendekat kepada Yang Mahapencipta. Sesuatu itu bukan dari siapa saja atau dari pihak mana saja, tetapi dari Yang Mahapencipta itu sendiri. Dari Tuhan. Itulah Agama.

Dan manusia membutuhkan agama, yaitu aturan sekaligus tuntunan dari Tuhan untuk manusia. Tetapi hanya manusia yang berpikir yang membutuhkan agama. Mengapa? Manusia beragama meyakini bahwa agama akan membelanya dan menyelamatkannya.

Iman manusia kepada Yang Mahapencipta akan menguat ketika manusia beragama dan menjalankan aturan-aturan Tuhan dengan lurus. Namun iman akan menipis ketika manusia mengabaikan dan melupakan aturan dan tuntunan Tuhan. Tidak menjalankan perintah dan melanggar larangan Tuhan.

Saat manusia mengimani Tuhan, beragama yang lurus, dan menjalankan aturan Tuhan dengan benar, maka ia akan merasakan kedekatan dan kemenyatuan dengan Tuhan. Ia akan merasa dan meyakini bahwa Tuhan selalu berada di dekatnya, mengawasi, menemani dan menjaganya. Dan juga memeringatkannya.

Pada saat itulah manusia memeroleh ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian.
Dan kedamaian akan memancar dari hati, pikiran, perilaku dan tutur katanya, kemudian menyebar ke sekelilingnya; memengaruhi lingkungan dan semua makhluk yang ada di dekat dirinya.

Adalah keliru mencari-cari  kedamaian, karena kedamaian akan datang kepada manusia yang memiliki cahaya Ilahi di hatinya, dan cahaya Ilahi itu akan memancar ke segala arah; memengaruhi dunia, memengaruhi segala makhluk.

[yss /2017]

Jangan Menempuhku

Tidak percayakah dirimu,
ketika aku lama meraba-raba dalam gelap?
dan aku tidak berdaya?

Apakah dirimu akan tetap tertawa,
ketika Yang Tidak Terlawan membuat matamu dibutakan,
dan memaksa hatimu ditutup?
dan dirimu tidak mampu melihat setitik pun cahaya yang dapat menerangi jalanmu.

Pernahkah dirimu mengalami sepertiku?
Ketika mataku tak melihat,
ketika telingaku tak mendengar,
ketika seluruh hati dipenuhi kegelapan;

Itulah aku yang kini terus mencari-cari jalan,
untuk mendekat kepada Tuhanku;
setelah aku mendapat karuniaNya,
yang masih memberiku waktu untuk mengingatNya.

Tetapi janganlah menempuh jalanku,
dirimu bukanlah aku;
yang belum tentu ada waktu buatmu kembali,
jika kegelapan memenuhi hatimu.

Dialah yang melindungiku;
ketika masih tersisa setitik cahaya di hatiku,
yang mengeluarkanku dari kegelapan,
dan membawaku kepada Cahaya keimanan.

[yss/sept2018]

memetik Sejarah

Ingatkah Nuh dan nenek moyangku,
yang selamat dari banjir bah yang melumat bumi?
Ialah hamba yang taat dan bersyukur;

pemimpin yang memercayai,
bahwa bersyukur dalam sulit dan senang,
adalah rahasia keselamatan dan kebahagiaan;
Bukan hanya baginya. Juga rakyatnya.

Ia dicemooh, namun ia pemimpin teguh;
dan selalu menghamba kepada Yang Mencipta;
dan rasa syukurnya tetap
dan ia tidak mengeluh
dan tidak sekalipun mengadukan bebannya kepada Tuhannya;
apalagi kepada rakyatnya.

Mengapa tidak memetik dari sejarah?
Mengapa tidak mengajak generasi baru kepada kemuliaan dan keimanan nenek moyangnya?
Mengapa kamu tidak menyeru anak-anak muda untuk banyak bersyukur?

Seharusnya kamu sudah tahu,
itulah rahasia keselamatan dan kebahagiaan;
bagimu dan rakyatmu.
Seharusnya kamu tahu,
itulah kewajiban pemimpin.

[yss/sept2018]

mencari Cahaya

jangan takut melangkah,
dan mengulang langkah;
bukankah roh-Nya masih kau miliki?

jika dunia meminggirmu,
jika menjauhi,
jika engkau terus jatuh tersia-sia;
maka sejak detik ini,
berpikirlah dengan ilmu yang Tuhanmu berikan;
bangkitlah dengan kekuatan yang Tuhanmu berikan;
Yang Mahaadil selalu mengasihimu.

jangan menangisi gelapnya masa lalumu,
karena Yang Mahaagung akan ridho,
saat engkau mencari Cahaya karena alasanNya.

[yss/sept2018]

Malaikat

Ketika hendak dilahirkan, bayi mengadu kepada Tuhannya.
“Aku bahagia di surga bersamaMu, mengapa aku harus ke dunia?”
“Engkau juga akan merasakan kebahagiaan di dunia.”
“Aku begitu lemahnya, bagaimana aku bisa bertahan di dunia?”
“Aku akan menunjuk seorang malaikat untuk menjagamu dan mendampingimu.”
“Banyak kejahatan dan orang jahat di dunia, bagaimana aku bisa selamat?”
“Malaikatmu akan melindungimu. Ia rela mati demi keselamatanmu.”
“Bagaimana jika aku ingin bertemu denganMu dan kembali kepadaMu?”
“Malaikatmu akan mengajarimu bagaimana cara mengingatKu dan cara kembali kepadaKu.”
“Tuhanku, siapakah nama malaikatku itu?”
“Jika nanti kau bertemu, sebut dan panggil saja namanya, Ibu!”

[yys/sept2018]